What The Next? 

Tahun inibsaya seringkali dihadapkan beberapa kali pilihan. Terutama pilihan-pilihan yang sulit. Mulai dari pendidikan, pekerjaan dan organisasi. Ini tidak mudah harus saya tekan. 

Tapi, saya menyakini semua akan indah pada waktunya. Dalam tulisan ini saya ingin bercerita, tekad saya untuk menjadi penulis sudah lama. Terutama dalam bidang fiksi. Hingga saya nekad untuk masuk menjadi wartawan hanya demi belajar penulisan yang baik. 

Di tengah perjalanan, saya menyenangai jalan tersebut. Bahkan, saya begitu mencintainya. Ada banyak tantangan yang hari ini hadir dan harus dilalui. Tapi, semuanya indah. 

Dalam perjalanan ini juga, novel saya oleh seword.com. siapa yang tidak mengenal seword? Portal opini yang saat ini sedang hits. 

Awalnya, saya hanya melemparkan kebutuntungan saja. Tapi, ternyata iseng-iseng berhadiah itu menjadi sebuah keberuntungan. Setelah novel itu dipublis, saya siap mengatakan bahwa saya ada penulis fiksi. Kenal saya sebagai Nurdiani Latifah. 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kecewa

Saya kecewa, bahkan sangat

Kita berada di satu tempat yang sama. Tapi, tak sedikit pun kita saling berbicara. Saling menatap mata pun kita tak bisa. Saya kecewa! 

Ini bukan kisah cinta yang tak terbalaskan. Bukan karena kamu yang sudah memiliki kekasih. Melainkan, kamu yang sudah telah mengingkari komitmen yang kamu bangun! 

Saya kecewa! Bahkan sangat! 

Kita berada di sudut ruang yang berbeda. Dan ini telah menjadi komitmen kita. Saya juga berterima kasih kamu bisa menghargai apa yang menjadi komitmen, aku dan kamu. 

Sejak kejadian itu, kita tak lagi bertemu dan bertegur sapa. Sekalian pun di tempat yang mempertemukan kita. Ah… Kamu, saya cukup kecewa dengan itu. 

Entahlah..

Semoga, di suatu hari ketika aku dan kamu dipertemukan kembali, rasa kecewa saya sudah sirna. Dan, saya tahu apa alasan kapan harus mencinta dan berhenti. 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Lebih dari Sekedar Bicara

Saya sengaja membuat blog ini hanya untuk curhat. Sebab, saya salah seorang yang tak bisa berbicara banyak dan berkata banyak. Di sisi saya akui merupakan seorang makhluk yang bawel. Tapi, itu hanya sisis lain saya. 

Satu minggu kebelakang saya memutusan untuk berhenti dari perusahaan media di Kota Bandung. Ini keputusan final yang saya ambil setelah banyak faktor yang mendukung keputusan. 

Maaf dalam forum ini saya ungkap. Alasannya, ini adalah ruang pribadi saya. Apakah ada pembaca dari situs ini, itu urusan belakamg. Salah satu faktor yang saya ambil, katakanlah perusahaan media itu sudah tidak sehat. Begitu kata beberapa kawan di media lain. 

Tapi, dunia bekerja tetaplah dunia bekerja. Harus menuruti keinginan perusahaan dan mematuhi kode etik sebagai wartawan. 

Keinginannya apa? Katakanlah perusahaan media harus membebankan iklan kepada wartawan. Halusnya tidak membebankan, tapi memang wartawan yang dianggap bagus yang dapat memberikan iklan kepada perusahaan. Bagi yang hanya memberikan tulisan dan isu, bakal habis-habisan dihajar dan dikatakan, “Kau tak becus jadi wartawan!”

Terkadang, kita sudah memberikan hal yang terbaik, memang tak pernah dianggap baik. Iklan dengan nilai Rp 500 ribu pun bisa diambil. Kondisi saya yang masih dianggap wartawan baru, memang cukup sulit mendapatkan iklan. 

Siapa pemegang dalam anggaran pun saya masih tidak tahu. Saya akui, perusahaan media tidak akan bisa hidup tanpa ada iklan. Beberapa wartawan yang sudah termasuk senior, dia akan mudah mendapatkannya. Apalagi dengan kondisi sudah mengusai lapangan dan ada di satu desk, fokus. 

Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya, iklan yang dibebankan kepada wartawan artinya pekerjaan marketing tidak maksimal.apakabar dengan dunia marketing? Pekerjaanmu apa jika iklan di media harus dipegang oleh wartawan? 

Ah… tulisan ini cukup membuat saya emosi. Maafkan saya, dan sepertinya saya harus berhenti menulis sebelum emosi saya semakin tidak baik

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Sudah Jangan Kembali

Untuk kamu yang tercatat sebagai mantan terakhir saya. 

Luka sekaligus kecewa masih teringat jelas dalam ingatan saya. Seperti yang saya sebut. Kamu sukses membuat cinta itu menyenangkan, begitu juga luka. Kalaulah saya tahu, akan berakhir seperti ini tak akan saya pilih kamu. 

Kamu datang, hati saya begitu rapuh. Saya kira kamu akan jadi pengobatnya. Ternyata tidak. Kisah masalalu saya telah kamu ketahui. Tapi, luka yang saya rasa malah kamu beri cuka. 

Perih! 

Kamu pergi dan jangan kembali lagi. Sekalipun hanya untuk meminta maaf, saya tak akan menerimanya. Biarkan saya egois untuk lupakan semuanya. 

Hanya satu pesan saya, jangan kembali lagi. Wajahmu, hanya mengingatkan luka. Terima Kasih

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Mungkin Terasa Saat Ini

Saya yang berstatus sebagai mahasiswa yang belum lulus, harus terpaksa bertahan di sebuah perusahan (mungkin) kurang sehat. Apa, ada banyak yang hilir mudik berganti sejak perusahaan ini ada. 

Mereka yang keluar mungkin sudah merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Di mana para pewarta harus mencari iklan tambahan untuk kebutuhan hidup. Ya, upah di sini tidak terlalu terlalu mencukupi. 

Kami yang selalu memperjuangkan upah buruh, kami juga yang upahnya tidak normal. Rp 1,4 juta. 

Sudah beberapa hari, kami – divisi redaksi – tidak nyaman. Ada banyak kemarahan yang menggulung di masing-masing orang. Tapi, tidak bisa diucapkan. 

Kemarahan itu sungguh membuat tidak nyaman. Saya letih dengan ritme kerja ketidaknyamanan ini. 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Saya Kira

Tepat satu bulan perpisahan kita. Saya masih tak habis pikir kenapa perpisahan kali ini harus terjadi. Ucapan kamu masih terasa jelas dalam kepala saya.bl sesaat sebelum perpisahan itu terjadi, kamu berucap letih ketika pertengkaran terjadi. 

Bahkan, kamu bilang letih untuk sakit hati. Kamu merasa letih, begitu juga saya. Kisah yang selalu karam, terkadang membua saya tak pernah menyakini ucapan lelaki. Termasuk kamu, saat awal memulai komitmen. 

Letih dan perih begitu dengan kenangan terus hadir. Ribuan lagu patah hati pun tak bisa wakili perih yang saat ini terasa. Saya tak ingin kamu kembali. 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Teruntuk Kamu, Dim

Dim, saya kembali patah hati bersama hujan yang tak kunjung henti. Hati saya kembali rapu. Terhitung sudah dua kali saya patah hati bersama kamu. Tapi, kali ini lebih parah. Sakitnya lebih dari saat kamu memutusakan pergi. 

Kamu tahu, selepas kamu tiada, saya tak pernah jatuh cinta. Dia, berbeda. Memang berbeda, cara meninggalkan saya juga berbeda. 

Ratusan lagu patah hati pun, tak bisa lukiskan patah hati sekarang. Kenangan bersama dia pun masih tetap lekat dalam otak saya. Sesekali dalam derasnya hujan yang turun, kenangan bersamanya masih tetap turun. 

Saya sangat tak tahan dalam keadaan patah hati ini. Bisa kamu kembalikan hati yang patah? Ah… sekalipun dia kembali, nampaknya saya tak tahan kembali dengannya. 

Memaafkan, sekaligus pergi dia pergi saya sudah maafkan. Yang paling sulit merangkai hati yang patah. Ingat, hati yang patah itu seperti 1000 pecahan cermin. Tak bisa kembali utuh. 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hujan yang Masuk ke Hati

Hujan itu terasa lirih, ketika rintiknya masuk dan menghenbus ke dalam hati. Sakit, mengenang kisah yang telah usai. Saya masih di sini, masih bersama kenangan dirimu. Kamu, lelaki yang saya persilahkan masuk ke dalam hati saya setelah itu saya membebaskan kamu untuk menyakiti saya atas kepergian kamu.

Saya tak lagi bisa menghalangi kamu pergi. Ribuan lagi patah hati selalu saya dengar setiap detiknya bersama tangis yang tak kunjung usai. ah… kamu masih tetap hidup hanya karena kenangan.

Ribuan kata patah pun tak bisa mengembalikan hati yang telah jatuh padamu. Ya, lalu apakah mungkin kamu kembali ke saya? seperti sebuah lagu, kamu kembali dan membasuh luka yang telah terjadi.

Harap, sesuatu yang konyol. Kisah ini begitu indah dan begitu menyakitkan. Saya tidak lagi bisa menyapamu dan mengembalikan tawa yang dulu pernah terjadi.

Kamu datang bersama canda dan tawa sekaligus harap. Saat ini, hanya sebuah tangis yang tersisa.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pertengkaran ini

ini terasa menyakitkan sayang. Hampir di setiap pembahasan kamu sering menyebut perpisahan. Tentang dirimu yang tak lagi memiliki rasa, tentang kisah jatuh cinta yang palsu. Ini benar-benar menyakitkan sayang. 

semua sikap kamu yang berubah, ini benar tak ada dalam benak saya. Sejak pertemuan itu dan kita yang sama-sama memutuskan bersama, hanya sesaat. 

Ah… sayang, kenangan kita semua indah. Kamu dan semua kisahnya tetap tak akan terganti. 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kisah ini Lucu

Semalem saya berusaha menelpon lelaki itu. Semua telah berubah begitu saja di saat saya tak siap dengan keadaan yang  baru. Lagi, lelaki itu mengungkit tentang rasa.

Saya sudah menebak semuanya, satu hal yang harus lelaki itu tahu. Ambisi saya hanya satu membuat lelaki itu jatuh cinta dan tak bisa melepaskan saya. Sama seperti yang terjadi hari ini. 

Saya tahu, pertengkaran ini membuatnya tak karuan. Lelaki itu dan saya. Kamu yang terkadang harus sering berkumpul dengan teman-temanmu. Kamu pergi dari tempat di mana kita membuat kenangan. Termasuk saya, perlahan saya juga pergi dari tempat itu. 

kisah ini sangat lucu. 

Secara kasat mata, saya yang terluka. Harusnya saya melupakannya. Tapi, lebih jauh lagi lelaki itu yang tersakiti. Cara paling mudah, saya tetap setia bersamanya dan menuai semua kebaikan. 

Kita saling menyakiti bukan? 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar